Thursday, February 2, 2012

Neo Animyeon Andwae

Oneuldo nae gieogeul ttarahemaeda, i gil kkeuteseo seoseongineun na.
Dasin bol sudo eomneun niga nareul butjaba, naneun tto i gireul mutneunda.
Nol bogoshipdago, tto angoshipdago. Jeo haneulbomyeo gido haneun nal.

Niga animyeon andwae, neo eobsin nan andwae.
Na ireoke haru handareul tto illyeoneul.
No apado joha, nae mam dachyeodo joha nan.
Na neoreul itgo salsun eopdago.

Nae meongdeun gaseumi, neol chajaorago, sorichyeo bureunda.
neon eodinneungeoni, naui moksori deulliki annni naegeneun.
Na dasi sarado, myeot beoneul taeeonado, harudo niga eobsi sal su eomneun na.
Naega jikyeojul saram.
Naega saranghal saram nan.
Geurae nan neo hanamyeon chungbunhanikka.
Neo hanaman saranghanikka.

Tuesday, December 27, 2011

Terimakasih, Coach.

Mereka adalah abang untukku, mereka adalah tempatku bercerita selagi aku terpaut jarak dengan orangtuaku.
Mereka tempatku berkeluh kesah ketika aku merasa tidak bisa melakukan apa yang mereka inginkan.
Mereka bukan pelatih sungguhan, namun aku selalu mendapatkan pelajaran dari setiap cacian mereka terhadap permainan burukku.
Aku selalu mengeluh, aku tidak bisa menjadi pemimpin yang baik di lapangan.
Mereka sekali lagi menepuk pundakku hangat, dan tersenyum. Lalu mengatakan, aku pasti bisa.

Aku menghadapi masa-masa sulita cedera ankle pertama kaliku bersama mereka, sebelum sebuah turnamen yang sudah aku tunggu semenjak setahun yang lalu.
12 hari turnamen itu dimulai, aku malah mendapatkan yang tidak seharusnya aku dapatkan.
Mereka bersikeras untuk tidak menurunkan aku dalam turnamen itu, aku pun marah.
Aku bertengkar, berdebat, dan menangis ketika mereka tetap kukuh dengan pendiriannya.
Aku berpikir bahwa mereka sungguh tidak memikirkan mimpiku.

Meleset! Semua pikiranku meleset! Mereka ternyata sangat sayang denganku.
Mereka masih menginginkanku untuk sembuh dan bisa bermain untuk turnamen yang lain, namun aku malah berpikir sebaliknya.
Maaf, aku.. Terlalu egois.
Akhirnya, dalam 12 hari aku bisa sembuh berkat keyakinanku dan tekadku untuk menunjukkan pada kalian semua bahwa aku bisa.

Sekarang, kalian semua sudah angkat kaki dari keluarga kecil ini. Walaupun angkat kaki bukan dalam arti yang sebenarnya.
Kami merasa kehilangan, namun itu adalah jalan terbaik untuk menempuh masa depan kalian.
Terimakasih, aku sayang kalian.

Thursday, July 21, 2011

Biarkan Dedaunan itu Tertiup Hingga Menyentuh Ujung Kakiku

Dikala ini aku sedang menikmati waktu untuk mengamati sesuatu, jalanan di depanku ini sangat lenggang.
Tanpa ada kerikil-kerikil tajam di atasnya.
Aku menghirup nafas dalam-dalam, merasakan hembusan angin sore ini yang sempat membawa anganku terbang.
Berbagai pemandangan aku perhatikan satu per satu, mulai dari orang yang sedang menyapu membersihkan daun-daun yang bertebaran di depan rumahnya hingga seorang pemulung yang membawa beban yang terlihat berat di pundaknya.

Apa masa depan akan terlihat lenggang seperti ini? Tidak ada kerikil-kerikil tajam, atau jalanan ini hanya merupakan sebuah angan?
Aku pun tidak dapat memastikan bagaimana masa depan itu, yang aku tahu masa depan itu beragam.
Sempat terpikir, seperti apa aku nanti?

Apakah aku akan menjadi seorang penyanyi seperti mimpiku? Atau aku akan menjadi seorang lawyer atas pendidikanku? Atau aku....
Biarkan Dedaunan itu Tertiup hingga Menyentuh jung Kakiku, agar aku tersadar realita hidup ini masih sedemikian panjangnya.
Selamat berjuang!

tiaratirka

Sunday, March 13, 2011

Berita dari Madrid untuk Ayah, Milanisti, dan Tirka

Minggu siang, gue bersiap untuk pergi ke tempat cuci mobil. Waktu itu,Ayah tiba-tiba bbm gue dan membawa berita dari Madrid, Spanyol. "Milan sedang nego sama Madrid dan Kaka, Kaka ngga mau pindah ke klub selain Milan. Soal harga, Kaka dilepas murah. Tinggal Milan mau ambil atau engga.." tulis ayah. DEG! Entah harus senang atau sedih?

Kalau Kaka pindah ke Milan, gue sangat senang. Tapi kalo tiba-tiba Milan tidak sanggup membayar Kaka untuk diboyong kembali ke Milan? Sedih, bukan? Gue hanya berharap yang terbaik untuk Kaka dan masa depan keduanya, Milan dan Kaka. Yang gue tau, hati Kaka hanya untuk Milan dan Sao Paolo (klub yang mendidiknya ketika masih muda). Tolong jangan paksa Kaka untuk memilih tempat dimana hatinya tidak berada.





Masih ingin lihat Kaka bersedih dan kecewa seperti gambar diatas? Hatinya masih untuk Milan, dia ingin merayakan keberhasilan Milan waktu itu. Tapi tidak ada yang bisa dia perbuat selain ikut senang dengan ekspresinya yang sedih. Ayolah Berlusconi! Uang-mu banyak, kekuasaan-mu hebat, hanya membawa Kaka kembali saja kamu tidak bisa? Kapan kamu mendengarkan aspirasi dari 'rakyat' Milan? Jangan EGOIS!

Ah, hampir lupa. Untuk seseorang yang berpindah hati untuk Madrid setelah Kaka pindah, gue sangat memohon kepada lo untuk tidak mendukung Milan lagi. Karena lo hanya mendukung Kaka sebenarnya, bukan medukung Milan. Ataupun mendukung keduanya. LO NGGA PANTES BUAT MILAN!

Pada akhirnya gue akan tetap berkata, gue masih berharap dan percaya bahwa Kaka akan kembali ke 'rumah keduanya', Milan.

tiaratirka
12.10 PM

Wednesday, November 10, 2010

My Life (Part: Bolang)

Kali ini 'edisi'-nya Bolang yang akan gue ulas disini, mereka adalah cahaya tersendiri untuk hidup gue. Even we're miles apart, i just wanna say.. I love them.

Adjie Raditio Gondhosasongko



Biasanya dia dipanggil Jiber, selalu ada buat gue seperti yang lain. Dia jago banget main bola, and he is a Milanisti like me. Dia sosok yang dewasa dan udah kayak kakak buat gue, terkadang dia juga bisa galak. Tapi aslinya dia baik banget kok, sekarang dia jauh sama gue. Di di Balikpapan untuk sesuatu yang akan membantu dirinya, dan gue salut sama dia. Dia ngga nyerah, i miss him so much. Karena cuma dia yang belum temuin lagi setelah kepergiannya ke Balikpapan. Semoga secepatnya gue bisa ketemu dia, and hug him sooooo tight :)


Ismail



Ini anak satu selaluuu ada juga buat gue, dan hobinya adalah 'ngenyot' jempolnya. Sampe ulangtahun dia, gue dan yang lain ngebeliin sia 'empeng' hahaha he' so funny and always make me laugh. Jagoannya dia Arsenal, sama kayak gue untuk liga inggris. Dia selalu ngertiin gue, bahkan sampe ke detil-detil kecil tentang gue hahaha sama kayak 3 yang lain. Sekarang dia di Solo yang hanya berjarak satu jam dari Jogja, tapi entah kenapa ada ajaaaa yang nunda gue untuk ketemu sama dia. Habis ini, gue harus ketemu dia. i miss him, always.


Zulfikar Purbaya



Si kecil ini (ups) sering banget jadi temen berantem gue, entah dari masalah kecil sampe besar. Selalu gue ajak berantem, dan tampangnya tengil banget. Tapi gue sayang banget sama dia seperti 3 yang lainnya, dia juga ngejagain gue. Dan marahin gue kalo geu udah mulai susah dibilangin, sekarang dia di Bandung. Dan jarang banget bisa ngajak dia berantem, gue kangen sama dia yang selalu ngajak gue berantem karena kelakukan gue atau pun dia. Kangen mukanya yang tengil, dan tatapannya yang nyolot. i'll catch him as soon as possible.


Zul Achmad Fauzan



Calon dokter ganteng yang satu ini niiiiiih, saingan gue dalam hal bola. Dia megang rivalnya Milan, yaitu Inter. Tapi walaupun kita beda begitu, tapi dia selalu menjadi suporter yang baik seperti 3 yang lainnya ketika gue sedang dalam kondisi yang buruk maupun gue lagi seneng. Dia selalu nasehatin gue dengan kata-katanya yang bijak, dan he's soooooo lovely hehehe. Dia di jakarta, tapi belum ada kesempatan buat gue ketemu sama dia. i miss him too.

Mereka berempat.... There's another words to say, all i wanna say is....... I LOVE THEM!

tiaratirka

Beri Aku Tujuh Warna

Langit berubah-ubah sesuai keinginannya, menembus awan hitam pekat.
Gemuruh terdengar, apakah badai akan datang? Atau bahkan enggan karena perih.
Turunlah Hujan, siapakah yang sedang menangis? Atau itu kuasa Tuhan?
Benak berpikir tajam, kritis hati tak terbendung.
Amarah Sang Pencipta tak tertahankan, ataukah hanya sekedar peringatan?
Terlalu banyak dusta mengiringi perjalanan Bangsa ini, lagi dan lagi terbang tertiup angin lalu.
Sadar? Tidak.
Tawa mereka berubah menjadi jeritan, senyum mereka berubah menjadi tangisan.
Siapa yang mendengar? Mereka yang berkuasa?
Tidak, telinga mereka tertutup. Hati mereka terkunci, mulut mereka terbungkam.
Kembali lagi, mereka hanya bisa menjerit untuk dirinya sendiri. Dan menangis hanya untuk hidupnya sendiri.
Kejam? Sangat.
Suatu hari, beri aku tujuh warna.. Akan ku lukiskan Pelangi untuk menyambut senyum dan tawa mereka kembali.



(http://geraldinefakhmiakbar.deviantart.com)


tiaratirka

Friday, October 29, 2010

Merah dan Biru

Aku ingin menguntai ini menjadi sebuah pita
Pita indah yang menghiasi ruang memori
Aku menyukai Merah dan Biru
Tetapi, mereka enggan bersatu. Bahkan, menolak.
Seratus Sebelas Tahun yang lalu
Merah dan Biru menjadi untaian memori yang indah
Bersatu, membelenggu raga menjadi satu kesatuan
Tetapi.. Merah dan Biru harus tercerai-berai
Mengapa para penguasa itu tak mendengar?
Jerit kami, teriakan kami, yang dulu satu
Mengapa para penguasa itu lebih memilih diam?
Lebih memilih menikmati sepiring escargot sambil merasakan indahnya pantai Costa Del Sud, di Sardinia..
Dibandingkan dengan... Mendengar aspirasi kami.
Sekali lagi, aku menyukai Merah dan Biru..
Namun, Merah dan Biru telah dibatasi hitam
Dan karena... Merah dan Biru tetap enggan bersatu..


tiaratirka
 
Header image by Flóra @ Flickr